Malam itu aku menjadi perempuan yang kau kehendaki
Dalam geliat waktu dan kayuh malam
Menaburkan wangi erotisme
Dalam pandang dua mata rubahmu
Kolam gelap yang menghancurkan raga kita
Bibir merah menyentuh angkasa
Merengkuh segala keangkuhanku
Malam itu perempuan ini milik mu
HAnya malam itu
Ketika gelap menyatukan segala
Kealpaan dan kelembutan yang bersenandung di telinga
Lalu kita bedua lenyap dalam desarhan ritme
Mengayuh mengiringi angin
Dan ketika kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Pada Sabtu malam yang muram dan hujan. Aku merasa berhenti menjadi manusia. Manusia yang bergerak. tumbuh, berfikir, merasa, dan mengalami. Tanpa bergerak tidak ada perkembangan, tidak ada rasa, tidak ada sedih, tidak ada kenikmatan. Manusia yang tidak mendapatkan kesempurnaan. Tidak mengalami gerak sebagai bagian dari keindahan. Aku diam seperti kematian. Dan hal itu lah sekarang yang terjadi kepadaku. Aku mati!. Atau…seperti mati. Karena sekarang seluruh organ tubuhku diam. Darahku beku, otakku berubah membatu, tulang-tulangku kaku. Cuma jantung saja yang tetap hidup. Terus berdenyut dengan kerasnya hingga Aku yakin Zelo dihadapanku dapat mendengar bunyi debar jantungku. Tapi ternyata bukan cuma Aku yang seperti mati. Zelo juga terdiam. Kekosongan yang panjang. Hanya dua mata yang saling mencari dalam suasana hiruk pikuk kafe.
“ itu pacarku ”. Sebuah suara memecah kesunyian.
“ gue Thor ”. Aku mendengar suara lain bicara.
“ saya Zelo “ Itu suara dalam hatinya. Bibirnya bergerak, tapi tak ada nada yang terucap.
“ gue kayak udah pernah kenal elo sebelumnya, Sudah pernah melihat elo tepatnya, tapi dimana ya? ”. Zelo diam. “ di acara-acara musik kali. Zelo kan drummer bandnya Herry ”.
“ oh..”. ( diam sesaat )
“ maaf, dimana kamu mengenal atau melihat saya? ”. Suara Zelo kembali beku, seperti hanya berputar-putar dalam tembok kaca kasat mata yang menghalanginya.
“ eh, gak tau lupa. Di acara sepertinya. Eh gue ke belakang dulu ya. Gue pegang acara jadi ga bisa lama-lama ninggalin backstage. Lo ngobrol dulu aja sama Bintang “. Lalu Ia berlalu pergi.
Mata kami berdua mengawasi Thor yang menghilang di balik kerumunan. Aku merasa tersesat. Zelo di hadapanku. Terluka dan aku dapat merasakan dari tatapannya.
“ pernahkah kamu berfikir mengapa kita ada di sini? ” tiba-tiba pertanyaan itu mengalir dari mulut nya. “ disini? “ Di kejauhan Herry mengawasi kami, tatapannya aneh, seolah-olah mengatakan “ apakah yang terjadi diantara kedua orang ini? “ . Kemudian Ia melambai pada kami. Zelo mengangguk sekilas.
“ ya disini, di tempat ini, di Jakarta, di Indonesia, di belahan bumi Asia Tenggara, di Dunia ini. Mengapa kita bukan di tempat lain, kota lain, negara lain, mengapa tidak di Eropa, Amerika atau Afrika?. Mengapa Tuhan menempatkan kita, kau dan aku disini?. Mengapa kita harus menjadi orang Indonesia, Melayu?. Mengapa tidak Kaukasian, Mongolian, Negro atau Indian?. Mengapa kita harus menjadi manusia?. Bukan kupu-kupu, ikan, singa atau anjing? ”.
Aku terkesima, menatap mata-kumbangnya yang sekarang memancarkan sinar aneh, siap meledak. Bukan cuma matanya, tangannya, kakinya, badannya. Setiap bagaian tubuhnya siap meledak. Seketika Aku berfikir mungkin saja Ia seorang Sagitarius. Sering berubah, kadang diam dan kadang siap meledak adalah ciri tipe Sagitarius.