Thu 14th Sep, 2006, Uncategorized

Chapter 4

senja kelabu

To: z.domingo@gmail.com

From: starrish

Subject: Re:Dear Zelo

Senja kelabu itu aku mendengar sebuah sapaan dalam sebutir rindu.
Aku berada di bawah segumpal Awan Dibawah lautan sinar gelap yang menyakitkan .
Rumah sejarah, pohon tua dan sebuah nyanyian dalam keheningan.
Sudah lama sekali sejak aroma malam yang menghantarkan kenanganku atas sejarah penuh tangis ini.
Matahari terakhir penuh kilau. Dan pelangi yang menggantung.
Seperti sepi yang menyelubungi hati.
Jika nanti cahaya hanya sebuah mimpi.
Dan ternyata aku hidup di sebuah dunia tanpa matahari.
Jika hanya tinggal aroma tubuhmu sebagai penuntunku.
Izinkan aku menjadi buta dan dicintai.


Send

Wed 21st Jun, 2006, Uncategorized

Chapter 3

Malam itu aku menjadi perempuan yang kau kehendaki
Dalam geliat waktu dan kayuh malam
Menaburkan wangi erotisme
Dalam pandang dua mata rubahmu
Kolam gelap yang menghancurkan raga kita
Bibir merah menyentuh angkasa
Merengkuh segala keangkuhanku
Malam itu perempuan ini milik mu
HAnya malam itu
Ketika gelap menyatukan segala
Kealpaan dan kelembutan yang bersenandung di telinga
Lalu kita bedua lenyap dalam desarhan ritme
Mengayuh mengiringi angin 

Dan ketika kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Pada Sabtu malam yang muram dan hujan. Aku merasa berhenti menjadi manusia. Manusia yang bergerak. tumbuh, berfikir, merasa, dan mengalami. Tanpa bergerak tidak ada perkembangan, tidak ada rasa, tidak ada sedih, tidak ada kenikmatan. Manusia yang tidak mendapatkan kesempurnaan. Tidak mengalami gerak sebagai bagian dari keindahan. Aku diam seperti kematian. Dan hal itu lah sekarang yang terjadi kepadaku. Aku mati!. Atau…seperti mati. Karena sekarang seluruh organ tubuhku diam. Darahku beku, otakku berubah membatu, tulang-tulangku kaku. Cuma jantung saja yang tetap hidup. Terus berdenyut dengan kerasnya hingga Aku yakin Zelo dihadapanku dapat mendengar bunyi debar jantungku. Tapi ternyata bukan cuma Aku yang seperti mati. Zelo juga terdiam. Kekosongan yang panjang. Hanya dua mata yang saling mencari dalam suasana hiruk pikuk kafe.

“ itu pacarku ”. Sebuah suara memecah kesunyian.

“ gue Thor ”. Aku mendengar suara lain bicara.

“ saya Zelo “ Itu suara dalam hatinya. Bibirnya bergerak, tapi tak ada nada yang terucap.

“ gue kayak udah pernah kenal elo sebelumnya, Sudah pernah melihat elo tepatnya, tapi dimana ya? ”. Zelo diam. “ di acara-acara musik kali. Zelo kan drummer bandnya Herry ”.

“ oh..”. ( diam sesaat )

“ maaf, dimana kamu mengenal atau melihat saya? ”. Suara Zelo kembali beku, seperti hanya berputar-putar dalam tembok kaca kasat mata yang menghalanginya.

“ eh, gak tau lupa. Di acara sepertinya. Eh gue ke belakang dulu ya. Gue pegang acara jadi ga bisa lama-lama ninggalin backstage. Lo ngobrol dulu aja sama Bintang “. Lalu Ia berlalu pergi.

Mata kami berdua mengawasi Thor yang menghilang di balik kerumunan. Aku merasa tersesat. Zelo di hadapanku. Terluka dan aku dapat merasakan dari tatapannya.

“ pernahkah kamu berfikir mengapa kita ada di sini? ” tiba-tiba pertanyaan itu mengalir dari mulut nya. “ disini? “ Di kejauhan Herry mengawasi kami, tatapannya aneh, seolah-olah mengatakan “ apakah yang terjadi diantara kedua orang ini? “ . Kemudian Ia melambai pada kami. Zelo mengangguk sekilas.

“ ya disini, di tempat ini, di Jakarta, di Indonesia, di belahan bumi Asia Tenggara, di Dunia ini. Mengapa kita bukan di tempat lain, kota lain, negara lain, mengapa tidak di Eropa, Amerika atau Afrika?. Mengapa Tuhan menempatkan kita, kau dan aku disini?. Mengapa kita harus menjadi orang Indonesia, Melayu?. Mengapa tidak Kaukasian, Mongolian, Negro atau Indian?. Mengapa kita harus menjadi manusia?. Bukan kupu-kupu, ikan, singa atau anjing? ”.

Aku terkesima, menatap mata-kumbangnya yang sekarang memancarkan sinar aneh, siap meledak. Bukan cuma matanya, tangannya, kakinya, badannya. Setiap bagaian tubuhnya siap meledak. Seketika Aku berfikir mungkin saja Ia seorang Sagitarius. Sering berubah, kadang diam dan kadang siap meledak adalah ciri tipe Sagitarius.

 

 

 

Tue 13th Jun, 2006, Uncategorized

Chapter 2

 

“ kenapa kamu menari ? “.

“ Zelo? “

Ia mengangguk “ Ya Bintang!, kita bertemu lagi, tak kusangka ini pesta ulang tahunmu “

Ia berbicara kepadaku namun ia menunduk dan tidak memadang wajahku.

“ Dengan siapa kamu kesini? ” dadaku berdegup amat kencang.Sampai terasa sakit. Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengannya.

“ Aku di ajak temanku Herry “ katanya, seraya menunjuk Herry yang sedang tertawa di antara lingkaran.

“ kenapa kamu menari sendirian seperti itu? “ tanyanya kemudian.

“ karena aku suka menari “. kataku kepadanya.

“ sendirian? “ ia maju selangkah.

Aku menggeleng. “ aku menari bersama bintang “ .

Lalu kudongakkan kepala menatap langit yang gelap. Dengan satu titik bintang redup disana. Ia maju selangkah lagi. sejenak ditatapnya bintang paling terang di langit.

“ Bintang menari bersama Bintang?“. Wajahnya serius, mengandung sedikit tanya dan sedikit keraguan.

“ mau menari bersamaku?”.Lalu aku merih tangannya.

“ slow dance? “ katanya.

Aku mengangguk “ pegang aku disini “. Kuraih tangannya dan ku arahkan ke pinggangku. Aku melingkarkan tanganku di lehernya dan menyandarkan kepalaku di dada nya. Aku tak tahu mengapa aku melakukan ini. Tapi tubuhnya hangat dan dadanya berdebar hebat.

“ aku di ajak Herry ke sini. Katanya gadis cantik bernama Bintang sedang berulang tahun dan mengadakan pesta di taman, aku teringat pertemuan dengan seorang gadis manis di stasiun kereta, namanya juga Bintang. Aku tidak menyangka gadis bernama Bintang ini adalah kamu“ Ia menjelaskan.

“ bagaimana kamu masih mengingatku? “ aku memindahkan tanganku ke pingganya. Memeluknya seperti ini membuatku sadar bahwa tubuhnya kurus sekali.

“ karena kamu membuatku berhenti melihat simetris terus-menerus “ katanya.

“maksudmu? “ tanyaku tak mengerti.

“ sesekali melihat garis lurus tidak apa. Aku selalu melihat garis-garis simetris di mana-mana. Ketika melihatmu aku melihat garis lurus “

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Aku tak mengerti. Apa yang dia maksud dengan garis simetris dan garis lurus itu. Tapi ini bukan waktu nya menganalisa. Aku terlalu mabuk untuk berfikir. Aku mempererat pelukanku. Lalu kami berdua menari dalam diam. Tanganku yang dingin berada dalam genggaman tanganya yang hangat. Kami berdua menari berpelukan. Setetes air mata jatuh ketika Ia berbisik pelan di telingaku.

“ selamat ulang tahun Bintang ”, katanya.

Tue 6th Jun, 2006, Uncategorized

Chapter 1

 

Aku pertama kali bertemu Zelo di atas sebuah kereta jurusan Jakarta-Bogor. Aku naik kereta dari stasiun Tebet dan akan turun di stasiun Pondok Cina Depok. Membeli beberapa novel Historical Romance bekas atau beberapa buku sastra murah di sepanjang kios dekat stasiun. Hari Sabtu, hanya itulah yang aku lakukan kini.

Zelo waktu itu bersandar pada tiang di dekat pintu masuk kereta yang tak berpintu. Angin menerpa rambutnya yang agak gondrong. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak warna coklat muda dan celana jeans biru yang tampak belel dan nyaman. Sepatu Converse model Chuck Taylor nya tampak baru dicuci. Matanya terus-terusan melihat ke arah luar. Pohon, rumah, jalan, gedung, pasar, berkelebat sepanjang jalan yang di lalui kereta.

Aku menyukai matanya yang agak sipit dan dalam. Seperti di tancapkan ke wajahnya dengan agak terlalu kuat sehingga tampak melesak ke dalam. Wajahnya tegas dengan hidung yang agak besar untuk proposi wajahnya. Secara fisik Zelo menarik gairah keperempuanan ku. Secara otomatis garis-garis di sudut bibirku membentuk senyum. Naluri yang tak aku kehendaki –membayangkan ada sepercik gairah meletup di antara otak, perut dan vagina- dengan denyut dan sensasi aneh yang membuat aku merasa tampak bodoh. Perjalanan dengan kereta ke stasiun Pondok Cina membutuhkan waktu sekitar 30 menit..

ketika aku turun nanti, laki-laki ini hanyalah kotak-kotak matrix yang buram dalam sudut otak ku. Bukan sesuatu yang akan menempel dan membentuk jaringan kenang yang nyata dan hadir setiap saat, namun mengendap seperti residu. Suatu saat akan hilang selamanya dimakan waktu. Namun kejadiannya tidak hanya selesai sampai disitu. Jika tidak, aku tidak akan pernah bisa menuliskan kisah ini. Dan menceritakannya kepada kalian. Zelo turun di stasiun yang sama. Dan ketika aku menginjakan kaki-kakiku di atas lantai beton yang kelabu dan dingin. Hujan turun dengan derasnya. Tanpa pertanda. Tanpa aba-aba. Tumpah ruah pada jalan rel yang tadinya panas berdebu.

 

Fri 2nd Jun, 2006, Uncategorized

SINOPSIS JUDUL : SYMMETRY

GENRE : POP LITERATUR/NOVEL

April - June 2006 200 hl. 15 cm x 19 cm

Symmetry menceritakan tentang kehidupan Bintang Marsellia, seorang mahasiswi Disain Graphis yang bekerja sebagai penjaga Distro Jones dan kini menjadi desainer t-shirt dan manajer grup band indie The Socialite. Mencoba mengubur dalam-dalam masa kecilnya yang pahit karena mengalami pelecehan seksual. Ia besar menjadi seorang gadis yang pendiam, penganalisa dan mudah depresi. Ditengah keinginannya untuk bisa menulis sebuah novel ia jatuh cinta dengan dua orang pria.

Thor, kekasihnya yang sempurna. Laki-laki yang pintar, ceria dan pandai bicara. Namun sepertinya hampir-hampir tidak membutuhkannya. Dan Zelo seorang pria dengan kelainan jiwa Asperger’s Syndrome yang mencintainya dengan cara yang ganjil dan misterius.

Di latar belakangi kehidupan band indie underground dan anak-anak perkotaan, cinta membuat Bintang dihadapkan kepada pilihan. Apakah ia akan memilih cinta normal yang sempurna namun rapuh atau cinta sederhana yang hampir saja di abaikan semua orang. Cinta yang telah Menjungkirbalikan hatinya. Dan pada akhirnya, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa pilihannya bisa saja sama sekali salah.

Wed 31st May, 2006, Uncategorized

The Other Love is Taboo!

SYMMETRY

About the other love that devours

and about something that missing inside your heart